“sukses itu apa?”
Nah,
kalau kita mengacu kepada pendapat mayoritas masyarakat yang pada
umumnya menganggap bahwa sukses itu identik dengan uang, maka ada
baiknya kalau kita meninjau lebih jauh apa gerangan yang ada di balik
itu semua. “Money oriented people” biasanya beranggapan bahwa pada saat
Anda berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang, maka di situlah letak
kesuksesan Anda. Kesuksesan yang bersifat terminal, artinya Anda telah
sampai ke titik akhir dari sebuah perjuangan panjang. Titik di mana
Anda tidak perlu lagi bekerja, titik di mana Anda juga telah memperoleh
kebebasan penuh, kebebasan untuk berbuat apa saja sekehendak hati. Mau
tidur di saat orang lain sibuk pergi ke kantor, ya boleh saja. Mau
jalan-jalan ke luar negeri atau main golf di saat orang lain sedang
bersitegang di ruang rapat, ya nggak ada yang larang. Pokoknya, apa pun
yang Anda mau lakukan, tidak akan ada yang keberatan. Istri, suami,
kerabat, famili, pegawai, dan siapa pun, termasuk mertua pun pasti tak
akan menegur, apalagi mencegah. Toh Anda sudah kaya, dan barangkali
inilah yang kebanyakan orang mengartikannya sebagai indiksasi sebuah
“financial freedom”. Kebebasan keuangan, merdeka secara finansial!
Bayangkan,
sementara orang-orang lain masih menjadi budak uang, bekerja
mati-matian setiap hari untuk dapat memburu uang, Anda justru telah
berhasil menjajah uang, menyuruhnya bekerja untuk mengundang
teman-temannya yang lain menjadi pekerja Anda. Hebat sekali kan?
Ya
benar. Anda hebat. Hanya saja, kaya atau sukses itu sifatnya relatif.
Tidak definitif. Sukses atau kesuksesan sudah pasti sulit untuk
dibuatkan tolok ukurnya. Kalau kaya? Bisakah diambilkan angka-angka
yang bisa mewakili kesuksesan kita?
Kalau si Badu yang
berpenghasilan 2 juta rupiah sebulan, berjalan-jalan di sebuah
perkampungan kumuh yang penduduknya banyak busung lapar, maka dia
mungkin akan merasa dialah orang terkaya di lingkungan itu. Tapi kalau
ia kemudian melintas di kompleks elit semacam Pondok Indah Jakarta,
kemungkinan besar ia akan merasa berubah miskin seketika itu juga.
Seorang teman yang pengusaha, selama ini merasa telah mencapai
tingkatan hidup yang “financial free” sehingga mengekspresikannya
dengan bepergian ke luar negeri berulang kali setiap tahun. Namun suatu
saat, ia berkata kepada saya, bagaimana ia merasa miskin kembali, saat
mengunjungi Hollywood di Amerika Serikat. Lho, bagaimana ini? Siapa
miskin, siapa kaya?
Yang saya dengar, orang terkaya di dunia
yang namanya Bill Gates juga masih datang ke kantor setiap hari. Aneh
ya, apakah ia ini merasa masih kurang kaya atau kurang sukses? Atau
belum benar-benar “financial free”?
Yah, itulah yang namanya
sebuah relativitas. Saya hanya berfikir, andaikata Anda menganggap
kelimpahan uang sebagai sebuah terminal akhir, maka Dewa Kesuksesan
akan menyambut Anda dengan kata-kata: “Happy landing in your own
paradise..” lalu Anda dipersilahkan masuk kesebuah pintu gerbang yang
di dalamnya terhampar sebuah padang rumput hijau indah serta luas tiada
bertepi. Sepintas pemandangan itu sangat-sangat indah, tapi Anda
bingung harus melangkah ke mana. Yang umum terjadi, pada masa-masa awal
orang akan sangat menikmati terminal akhir dari sebuah kesuksesan
seperti itu, namun perlahan tapi pasti, di suatu batas ia akan
mengalami kejenuhan yang menyebabkannya merasa kehilangan tujuan.
Saya
mendeteksi fenomena itu sebagai sebuah sindrom. Dari pembicaraan dengan
beberapa rekan yang berkompetensi dalam aspek-aspek kejiwaan, belum
ditemukan istilah yang benar-benar tepat dan baku untuk itu. Oleh
karenanya saya cenderung untuk memberi istilah sebagai “sindrom
kehilangan tujuan”, atau kalau boleh disingkat, kita sebut saja sebagai
“SKT”.
Penyebab sindrom tersebut adalah karena seseorang
menganggap “keberhasilan dalam mengumpulan banyak uang” sebagai sebuah
titik akhir dari sebuah perjuangan. Dan bila keberhasilan sebagaimana
yang didefinisikan itu telah tercapai, maka saat itulah “sidrom
kehilangan tujuan” akan muncul.
Dampak dari SKT ini cenderung
negatif, dan bisa terjangkit pada semua orang dari profesi apa saja,
dan tersebar mulai dari lapisan masyarakat paling bawah, sampai ke
lapisan paling atas.
Di tingkat lapisan masyarakat bawah, bisa
kita lihat gejala SKT menghinggapi mereka yang merasa kebutuhan
pokoknya telah terpenuhi. Beberapa rekan yang bekerja sebagai sopir
atau pesuruh kantor (office boy) di perusahaan-perusahaan besar,
menerima gaji yang jauh lebih tinggi, bila dibanding karyawan sejenis
di perusahaan lain. Gaji tersebut sudah berlebihan menurut kebutuhan
mereka, sehingga walau sebagian ditabung, masih ada sejumlah uang
tersisa yang entah untuk apa nantinya digunakan.
Mereka
akhirnya terkena SKT, karena setelah semua kebutuhan pokok dan nafkah
keluarga telah terpenuhi, untuk apa lagi kelebihan uang itu ? Apa lagi
yang harus dilakukan ? Maka. seperti telah disinggung di atas, SKT
cenderung berakibat negatif. Sebagian dari mereka akhirnya pergi ke
dunia gelap, foya-foya, mabuk-mabuk dan banyak yang merencanakan kawin
lagi.
Pada tingkat menengah, gejalanya tidak jauh berbeda.
Foya-foya sudah menjadi standar yang lumrah. Kalangan menengah biasanya
menginjak taraf kemapanan sekitar umur 40-an tahun. Maka SKT menjelma
dalam bentuk yang sudah sangat dikenal masyarakat, antara lain berupa
“masa puber kedua” dan semacamnya. Makin tinggi tingkat kecukupan
seseorang dalam soal materi—(ini sering diidentikkan orang sebagai
keberhasilan hidup)–SKT menampakkan dampaknya lebih dahsyat.
Di
kalangan atas, banyak dari kaum elit memelihara istri-istri simpanan,
mencari hiburan keluar negeri, berjudi di pusat-pusat perjudian
internasional. Yang lebih parah, para pengusaha raksasa yang terkena
SKT, melanjutkan sepak terjangnya dengan merugikan orang lain, misalnya
mencaplok perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, berkolusi untuk
menguasai lahan-lahan milik masyarakat yang berpotensi ekonomi dan
banyak tindakan-tindakan tidak etis lainnya.
Lain halnya apabila
seseorang menganggap keberhasilan dalam mengumpulkan kekayaan materi
sebagai sebuah “titik awal” dari sebuah perjalanan lanjutan menuju
kesuksesan lain yang lebih bermakna dan lebih berkualitas. Orang-orang
tipe ini tidak akan terkena sindrom, sebab Dewa Kesuksesan tidak
menyambut mereka dengan kata-kata: “Happy landing……”, melainkan
dengan ucapan “Welcome on board..”, untuk selanjutnya mempersilahkan
orang sukses menaiki kapal yang dikemudikannya, lalu berlayar menuju
pulau-pulau kesuksesan berikut.
Apa saja yang dimaksud dengan
pulau-pulau kesuksesan berikut itu? Ya, antara lain mendirikan
pabrik-pabrik baru yang mampu menampung banyak pekerja dalam rangka
menanggulangi kasus pengangguran, mendirikan bank-bank perkreditan
rakyat yang membantu kelangsungan usaha rakyat kecil, mendirikan
yayasan-yayasan yang membina kaum jompo dan yatim piatu,
sekolah-sekolah dan last but not least… menyelenggarakan
seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk berbagi
pengetahuan serta pengalaman, agar banyak orang dapat mengikuti
jejaknya menjadi pengusaha yang berhasil….
Rusman Hakim